SOROTMAKASSAR -- GOWA, Festival Sastra Kepulauan IX 2026 resmi ditutup Ketua Teater Kita Makassar, Dr. Asia Ramli, di Baruga Benteng Somba Opu, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, Sabtu malam (19/9/2026).
Penutupan tersebut menandai berakhirnya rangkaian festival sastra yang mengusung tema “Merawat Tradisi Puitik, Menautkan Keberagaman Kampung”. Kegiatan ini mempertemukan puluhan sastrawan, akademisi, dan komunitas seni dari berbagai wilayah kepulauan Indonesia dalam semangat kebersamaan dan penguatan kebudayaan.
Dalam sambutannya, Asia Ramli, yang juga dikenal dengan nama panggung Ram Prapanca, menyampaikan penghargaan kepada seluruh pihak yang telah berkontribusi menyukseskan penyelenggaraan Festival Sastra Kepulauan IX 2026.
Apresiasi tersebut ditujukan kepada panitia inti, relawan, narasumber, juri lomba, peserta, serta berbagai lembaga yang memberikan dukungan sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan festival berakhir.
“Terima kasih kepada panitia yang telah bekerja keras sejak perencanaan hingga berakhirnya acara. Terima kasih kepada para narasumber, juri, serta pihak-pihak yang mendukung,” ujar Asia Ramli.
Ia menegaskan, keberhasilan festival merupakan hasil kerja kolektif berbagai elemen yang memiliki kepedulian terhadap perkembangan sastra dan kebudayaan. Dukungan Dewan Kesenian Sulawesi Selatan serta sejumlah lembaga strategis lainnya turut menjadi bagian penting dalam penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Sebelas Agenda Utama Warnai Festival Sastra Kepulauan IX
Festival Sastra Kepulauan IX 2026 menghadirkan sebelas agenda utama yang dirancang untuk memperluas ruang apresiasi, kreativitas, dan pengembangan literasi.
Rangkaian kegiatan meliputi kemah sastra, dialog dan diskusi sastra, workshop penulisan sastra dan seni pertunjukan, panggung sastra, pameran dan peluncuran buku, lomba penulisan puisi, lomba keindahan kemah, serta penganugerahan penghargaan bagi sastrawan berprestasi dari wilayah kepulauan.
Salah satu agenda yang mendapat perhatian adalah peluncuran antologi puisi berjudul Kata-kata yang Menyeberang. Buku tersebut menghimpun karya 62 penyair dari berbagai daerah, termasuk kontribusi penyair dari Malaysia.
Asia Ramli menyampaikan bahwa peluncuran antologi merupakan tradisi yang terus dipertahankan dalam penyelenggaraan Festival Sastra Kepulauan. Tradisi tersebut menjadi bagian dari upaya mempertemukan karya dan gagasan penyair dari berbagai wilayah.
“Ini adalah tradisi yang terus kami jaga. Ada 11 item kegiatan, termasuk peluncuran antologi dari 62 penulis, dari berbagai daerah bahkan ada dari Malaysia,” katanya.
Kolaborasi Lembaga Perkuat Ekosistem Kebudayaan
Festival Sastra Kepulauan IX 2026 mendapat dukungan dari sejumlah mitra strategis, di antaranya Badan Pelestarian dan Pengembangan Bahasa Kemendikdasmen melalui Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Teater Kita Makassar, Fakultas Sastra dan Budaya (FSD) Universitas Negeri Makassar (UNM), Dinas Kebudayaan Provinsi Sulawesi Selatan, Dewan Kesenian Sulawesi Selatan, serta UPT Taman Budaya Sulawesi Selatan.
Kolaborasi tersebut memperkuat peran festival sebagai ruang perjumpaan antara komunitas seni, lembaga pemerintah, dan kalangan akademisi dalam mengembangkan literasi dan kebudayaan berbasis kepulauan.
Melalui berbagai agenda yang diselenggarakan, festival tidak hanya menghadirkan karya sastra, tetapi juga membuka ruang pembelajaran, dialog, dan pengembangan kreativitas bagi peserta dari beragam latar belakang.
Benteng Somba Opu, Ruang Sastra dan Refleksi Sejarah
Kawasan bersejarah Benteng Somba Opu dipilih sebagai lokasi pelaksanaan festival karena memiliki nilai historis dan budaya yang kuat. Tempat ini dinilai selaras dengan semangat kegiatan untuk merawat tradisi dan mempertautkan keberagaman masyarakat melalui sastra.
Kehadiran festival di kawasan bersejarah tersebut memberikan ruang bagi sastra untuk berinteraksi dengan ingatan kolektif, warisan budaya, serta dinamika kehidupan masyarakat kepulauan.
Dengan berakhirnya Festival Sastra Kepulauan IX 2026, panitia berharap kegiatan ini dapat terus berkembang sebagai agenda tahunan yang mendorong kreativitas sastra dan memperkuat jejaring kebudayaan di Indonesia.
Asia Ramli juga menyatakan komitmen untuk menjaga tradisi peluncuran antologi, dialog sastra, serta pelibatan generasi muda dalam kegiatan literasi pada penyelenggaraan festival berikutnya.
Festival Sastra Kepulauan IX 2026 menjadi pengingat bahwa sastra memiliki ruang penting dalam merawat keberagaman, memperkuat kebersamaan, dan menumbuhkan kecintaan terhadap kebudayaan Nusantara. (*)


