SOROTMAKASSAR -- SINJAI, Bukan sekadar merayakan usia, Sanggar Seni Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi Dusun Congkoe, Desa Lamatti Riaja, Kecamatan Bulupoddo, Kabupaten Sinjai, menjadikan Anniversary Ke-1 sebagai panggung untuk menunjukkan bahwa kreativitas dan kebersamaan mampu tumbuh kuat dari pelosok desa.
Genap satu tahun berkarya, sanggar tersebut merayakannya dengan penuh semangat kebersamaan melalui rangkaian kegiatan selama enam hari, 9 hingga 14 September 2026.
Mengusung tema “Merajut Kebersamaan, Mengukir Prestasi dan Menginspirasi Generasi”, Anniversary Ke-1 ini tidak hanya menjadi seremoni hari jadi, tetapi juga refleksi perjalanan sanggar dalam membuka ruang bagi anak-anak, pemuda, hingga masyarakat untuk mengembangkan bakat, minat, kreativitas, dan potensi mereka.
Beragam kegiatan mewarnai rangkaian perayaan. Mulai dari lomba keagamaan, literasi, numerasi, kesenian, hingga berbagai lomba hiburan yang melibatkan anak-anak, pemuda, kelompok dasawisma, serta masyarakat secara umum.
Kemeriahan bahkan semakin terasa pada hari terakhir. Lomba Mini Enduro Trail yang disponsori IJM (Iyan Jaya Motor) sukses menarik perhatian dan mendatangkan peserta dari berbagai wilayah.
Pesertanya tidak hanya berasal dari Kecamatan Bulupoddo, tetapi juga dari kabupaten lain. Suasana kompetisi pun semakin semarak, sekaligus menjadi daya tarik tersendiri dalam menutup rangkaian Anniversary Ke-1 sanggar tersebut.
Kepala Dusun Congkoe sekaligus Perintis dan Pembina Sanggar Seni Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi, Satri Asma, S.Pd., M.Pd., mengungkapkan rasa syukur atas perjalanan sanggar selama satu tahun.
Menurutnya, perjalanan tersebut telah memberikan banyak pengalaman, pembelajaran, sekaligus proses pendewasaan bagi anak-anak yang terlibat di dalamnya.
Ia menuturkan, sejak awal menggagas sanggar, tujuan utamanya adalah memberikan ruang kepada anak-anak untuk berani mengeksplorasi ide dan mengembangkan potensi yang mereka miliki.
"Ketika pertama kali menggagas sanggar ini, yang ada dalam pikiran saya adalah bagaimana anak-anak benar-benar diberikan ruang untuk mengeksplorasi ide-ide mereka sesuai dengan bakat dan potensi yang mereka miliki,” ungkapnya.
Semangat tersebut kemudian diwujudkan dalam berbagai kegiatan nyata.
Bahkan, sekitar dua bulan setelah sanggar terbentuk, Satri Asma sudah memberanikan diri mengajak anak-anak menggelar kegiatan besar dalam rangka memperingati Hari Pahlawan.
Kegiatan itu dirangkaikan dengan pentas kepahlawanan dan berbagai perlombaan antarrukun tetangga (RT) yang berlangsung selama tiga hari empat malam.
Menariknya, kegiatan tersebut dapat terlaksana dengan anggaran sekitar Rp3,7 juta.
Pengalaman itu pula yang kemudian menjadi modal keberanian untuk menggelar Anniversary Ke-1 Sanggar Seni Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi selama enam hari, dengan anggaran sekitar Rp5,5 juta.
Namun, bagi Satri Asma, besar kecilnya sebuah kegiatan tidak semata-mata ditentukan oleh besarnya anggaran.
Ada hal yang jauh lebih penting, yakni bagaimana sebuah kegiatan mampu menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, kebersamaan, gotong royong, serta partisipasi masyarakat.
“Bukan besar anggarannya yang menjadi ukuran utama, tetapi bagaimana kegiatan itu bisa menghadirkan persatuan, kebersamaan, gotong royong, dan partisipasi seluruh warga,” ujarnya.
Semangat itulah yang menjadi napas perjalanan Sanggar Seni Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi selama setahun terakhir.
Dari sebuah gagasan sederhana untuk menyediakan ruang kreativitas bagi anak-anak, sanggar tersebut kini berkembang menjadi wadah yang mempertemukan seni, pendidikan, keagamaan, hiburan, olahraga, dan kebersamaan masyarakat.
Anniversary Ke-1 akhirnya bukan hanya menjadi penanda bahwa sanggar telah berusia satu tahun. Lebih dari itu, perayaan tersebut menjadi bukti bahwa dari sebuah dusun, potensi anak-anak dan masyarakat dapat dirawat, dikembangkan, dan ditampilkan melalui kegiatan yang positif.
Merajut kebersamaan, mengukir prestasi, dan menginspirasi generasi—itulah satu tahun perjalanan Sanggar Seni Sipakatau Sipakainge Sipakalebbi Dusun Congkoe. (Iz)





