SOROTMAKASSAR -- Luwu Utara.
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat kebun dan sawah milik masyarakat terendam air. Selain itu sekitar 2.087 rumah warga yang berada di 8 (delapan) kecamatan terendam banjir, Senin (29/04/2019).

Ketinggian air di halaman dan di luar rumah warga berkisar 50 centimeter hingga satu meter. Selain merendam rumah, banjir juga merendam fasilitas umum, seperti Mesjid dan Gereja. Kemudian merendam perkebunan milik warga setempat hingga terancam gagal panen.
Delapan kecamatan yang saat ini terendam yakni, Kecamatan Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke Barat, Malangke, Mappedeceng, Bone-Bone, Sabbang dan Sabbang Selatan.

Di Kecamatan Baebunta yang terendam yakni Desa Mario 150 KK. Kecamatan Baebunta Selatan, di Desa Beringin Jaya 500 KK, Desa Polewali 62 KK, Desa Sumpira 13 KK.
Di Kecamatan Malangke Barat, di Desa Limbong, Wara, Cenning, Kalitata, dan Polewali. Dari kelima desa tersebut, Desa Limbong 89 KK, Desa Wara 98 KK. Dan untuk Kecamatan Malangke, di Desa Girikusuma 205 KK, Desa Tingkara ada dua dusun karena tanggul sungai Masamba jebol.

Sementara laporan Kepala BPBD Lutra, Alauddin Sukri mengatakan, juga di Kecamatan Mapoedeceng di Desa Ujung Mattajang, Desa Cendana Putih Dua, Desa Kapidi dan Desa Taratallu, semuanya berjumlah 436 KK.
"Di Kecamatan Bone-Bone, di Desa Batang Tongka 34 KK, Desa Rampiang dan Desa Sadar belum ada data masuk," tutur Alauddin Sukri.
"Dan untuk Kecamatan Sabbang dan Sabbang Selatan juga belum ada data yang akurat masuk," tambahnya.
Tingginya intensitas hujan di daerah tersebut, membuat warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat untuk menghindari banjir lebih parah. Namun, tidak sedikit yang tetap nekat bertahan di rumah untuk mempertahankan harta benda.
Menurut salah seorang warga yang enggan mengungsi, terpaksa mengangkat harta benda ke tempat lebih tinggi dan membuat tempat tidur yang menyerupai panggung di dalam rumah. “Kerjaannya ya tidur di sini, kalau malam kedinginan tapi sudah terbiasa,” ujar korban banjir, Wawan.
Sementara itu, Camat Malangke Barat, Sulfiadi menyampaikan, genangan banjir ini masih berlangsung, sehingga membuat warga tidak bisa beraktifitas normal. (yustus)
Hujan deras yang mengguyur wilayah Kabupaten Luwu Utara (Lutra), Sulawesi Selatan (Sulsel) membuat kebun dan sawah milik masyarakat terendam air. Selain itu sekitar 2.087 rumah warga yang berada di 8 (delapan) kecamatan terendam banjir, Senin (29/04/2019).

Ketinggian air di halaman dan di luar rumah warga berkisar 50 centimeter hingga satu meter. Selain merendam rumah, banjir juga merendam fasilitas umum, seperti Mesjid dan Gereja. Kemudian merendam perkebunan milik warga setempat hingga terancam gagal panen.
Delapan kecamatan yang saat ini terendam yakni, Kecamatan Baebunta, Baebunta Selatan, Malangke Barat, Malangke, Mappedeceng, Bone-Bone, Sabbang dan Sabbang Selatan.

Di Kecamatan Baebunta yang terendam yakni Desa Mario 150 KK. Kecamatan Baebunta Selatan, di Desa Beringin Jaya 500 KK, Desa Polewali 62 KK, Desa Sumpira 13 KK.
Di Kecamatan Malangke Barat, di Desa Limbong, Wara, Cenning, Kalitata, dan Polewali. Dari kelima desa tersebut, Desa Limbong 89 KK, Desa Wara 98 KK. Dan untuk Kecamatan Malangke, di Desa Girikusuma 205 KK, Desa Tingkara ada dua dusun karena tanggul sungai Masamba jebol.

Sementara laporan Kepala BPBD Lutra, Alauddin Sukri mengatakan, juga di Kecamatan Mapoedeceng di Desa Ujung Mattajang, Desa Cendana Putih Dua, Desa Kapidi dan Desa Taratallu, semuanya berjumlah 436 KK.
"Di Kecamatan Bone-Bone, di Desa Batang Tongka 34 KK, Desa Rampiang dan Desa Sadar belum ada data masuk," tutur Alauddin Sukri.
"Dan untuk Kecamatan Sabbang dan Sabbang Selatan juga belum ada data yang akurat masuk," tambahnya.
Tingginya intensitas hujan di daerah tersebut, membuat warga terpaksa mengungsi ke rumah kerabat untuk menghindari banjir lebih parah. Namun, tidak sedikit yang tetap nekat bertahan di rumah untuk mempertahankan harta benda.
Menurut salah seorang warga yang enggan mengungsi, terpaksa mengangkat harta benda ke tempat lebih tinggi dan membuat tempat tidur yang menyerupai panggung di dalam rumah. “Kerjaannya ya tidur di sini, kalau malam kedinginan tapi sudah terbiasa,” ujar korban banjir, Wawan.
Sementara itu, Camat Malangke Barat, Sulfiadi menyampaikan, genangan banjir ini masih berlangsung, sehingga membuat warga tidak bisa beraktifitas normal. (yustus)








