SOROTMAKASSAR – MAKASSAR.
Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali meneguhkan jati dirinya sebagai institusi pendidikan yang responsif terhadap problematika sosial. Melalui pengejawantahan pilar Catur Dharma—yang mengintegrasikan Pendidikan, Penelitian, Pengabdian Masyarakat, serta Pendidikan Karakter dan Dakwah Islamiyah—Fakultas Kedokteran UMI meluncurkan gerakan masif bertajuk "UMI Mengajar".
Gerakan ini bukan sekadar rutinitas akademik, melainkan sebuah misi distribusi ilmu pengetahuan yang menyasar berbagai titik di dalam maupun luar Kota Makassar. Salah satu simpul pengabdian yang paling krusial dilaksanakan di RS Hermina Makassar, Rabu (18/03/2026), melalui pelatihan bertajuk "Bantuan Hidup Dasar (BHD) untuk Masyarakat Awam".
Pelatihan yang berlangsung di Ruang Pertemuan Lantai 6 RS Hermina ini dipandu langsung oleh dr. Zulkarnain Haroen Arrasjid, Sp.An-TI., MARS. Pakar dari Departemen Anestesiologi dan Terapi Intensif FK UMI ini mentransfer pengetahuan teknis kepada sekitar 40 peserta yang terdiri dari tenaga administrasi, petugas non-medis, jajaran manajemen, hingga pengunjung rumah sakit.
Antusiasme peserta tampak memuncak saat memasuki sesi simulasi taktis. Menggunakan manekin atau boneka peraga, para peserta dilatih untuk mengasah kepekaan dalam mengenali tanda-tanda kegawatdaruratan medis, seperti henti jantung dan henti napas. Dr. Zulkarnain menekankan pentingnya "Golden Period" atau momen krusial pertolongan pertama yang harus dilakukan masyarakat awam sebelum tim medis tiba di lokasi kejadian.
"Tujuan utama dari edukasi ini adalah agar masyarakat tidak hanya menjadi saksi saat melihat kecelakaan atau serangan jantung, tetapi mampu menjadi penolong pertama yang kompeten. Pengetahuan BHD adalah pembeda antara kehidupan dan kematian dalam situasi darurat di luar rumah sakit," ungkap sang dosen dalam paparannya.

Kegiatan yang turut dihadiri oleh jajaran puncak manajemen RS Hermina ini diharapkan mampu menjadi solusi atas tingginya angka kematian akibat henti jantung di ruang publik. Dengan meningkatnya literasi medis masyarakat awam, angka kesakitan dan fatalitas akibat keterlambatan penanganan diharapkan dapat ditekan secara signifikan.
Implementasi "UMI Mengajar" ini menjadi bukti nyata komitmen Civitas Akademika Universitas Muslim Indonesia, khususnya para dosen Fakultas Kedokteran, dalam memberikan dampak positif yang konkret. Kehadiran UMI di tengah masyarakat bukan lagi sekadar menara gading ilmu pengetahuan, melainkan menjadi oase solusi bagi keselamatan publik.
Misi pengabdian ini diakhiri dengan harapan bahwa setiap peserta yang telah dibekali keterampilan BHD mampu menjadi agen penyelamat di lingkungannya masing-masing, selaras dengan semangat dakwah Islamiyah yang menjunjung tinggi nilai satu nyawa manusia laksana menyelamatkan seluruh umat manusia.







