Menjaga Perut Rakyat, Merancang Republik: Membaca Kepemimpinan Andi Amran Sulaiman

Oleh: Nani Harlinda Nurdin
(PP IKA Unhas Periode 2022-2026)

ADA satu pola yang menarik dalam sejarah kepemimpinan bangsa ini, bahwa pemimpin besar selalu diuji dari kemampuannya menyelesaikan urusan yang paling mendasar yakni perut.

Soeharto kuat karena swasembada beras pada 1984 dan SBY kokoh karena ketahanan pangan 2004-2009.

Dan ukuran paling jujur untuk menilai seorang pemimpin adalah does it work?.

Bukan seberapa lantang pidatonya tapi seberapa tenang dapur rakyatnya, bukan seberapa sering tampil di forum-forum, tapi seberapa stabil harga di pasar.

Hari ini, di tengah ancaman krisis global kita melihat pola tersebut berulang.

Data Badan Pangan Nasional pada April 2026 menunjukkan peningkatan produksi pada 11 komoditi pangan utama, beras, jagung pakan, kedelai, bawang merah, bawang putih, cabai (besar/kecil), daging ayam ras , telur ayam ras, daging sapi/kerbau, gula konsumsi, dan minyak goreng telah melampaui kebutuhan nasional.

Indonesia akhirnya swasembada pangan yang ditetapkan pada Sidang Kabinet Paripurna tanggal 31 Desember 2025. Dengan ukuran ini, dua periode Andi Amran Sulaiman memimpin Kementerian Pertanian layak dibaca sebagai case study tentang leadership that delivers.

Dia adalah arsitek dibalik pencapaian tersebut.

Pencapaian tersebut baru output, dan Merilee Grindle mengingatkan ada jurang antara policy content dan policy context.

Andi Amran Sulaiman paham bahwa jurang itu bernama distribusi dan dia memenangkan pertempuran di ladang lewat mekanisasi dan penertiban pupuk. Biaya produki petani turun 30 persen karena alsintan.

Dia juga sadar, kemenangan tersebut bisa rapuh jika ongkos angkut goyah, dan penyesuaian harga BBM 18 April 2026 langsung menekan rantai pasok.

Publik mengenal Andi Amran Sulaiman sebagai Menteri Lapangan, jarang pidato dan lebih sering turun ke sawah.

Dia memberantas mafia pupuk bersubsidi saat yang lain berkompromi.

Dia mendigitalisasi data pertanian saat yang lain masih menggunakan cara lama.

Dia paham bahwa politik paling nyata adalah politik perut.

Pencapaian tersebut baru output, dan Merilee Grindle mengingatkan ada jurang antara policy content dan policy context.

Dia paham bahwa jurang itu bernama distribusi dan dia memenangkan pertempuran di ladang lewat mekanisasi dan penertiban pupuk.

Biaya produki petani turun 30 persen karena alsintan. Dia juga sadar, kemenangan tersebut bisa rapuh jika ongkos angkut goyah, dan penyesuaian harga BBM 18 April 2026 langsung menekan rantai pasok.

Ketika harga cabai tembus Rp. 60.000,- dan bawang merah Rp. 50.000,- per kilogram, dia tidak menyalahkan cuaca tetapi membenahi logistik pangan antarpulau, intervensi Bulog untuk hortikultura strategis dan contract farming yang mengunci harga sejak tanam.

Di sinilah relevansi Jan Kooiman tentang governing mix. Negara modern tidak bisa menjadi pemain tunggal.

Adakalanya hierarchical governing untuk stabilisasi darurat.

Ada kalanya co governing bersama swasta, daerah dan pasar.

Ada kalanya self governing menghidupkan lumbung di level tapak, sehingga politik perut bisa diselesaikan dari RT.

Lalu, siapa yang bisa menjadi dirigen dari tiga modus governing itu?

Dari jejak perjalanannya, Andi Amran Sulaiman sudah mengorkestrasi. Di era panggung politik yang dipenuhi narasi, Andi Amran Sulaiman justru menawarkan narasi kerja. Dia tidak membangun personal branding melainkan membangun public trust.

Dua periode di kementerian yang rawan, dilewati dengan zero kasus korupsi, dan ini catatan yang tidak dimiliki oleh semua pejabat.

Indonesai Emas 2045 butuh lebih banyak Amran-Amran lain di sektor strategis. Butuh arsitek yang terbukti merancang system, mengeksekusi dan menjaga integritas. Butuh figur yang tahu persis rasanya ketimpangan, lalu membuktikan bahwa putra Sulawesi Selatan bisa mengelola urusan nasional dengan cara world class.

Ladang sudah dimenangkan, sawah sudah menghijau, petani sejahtera dan dapur sudah mulai ngepul. \

Sejarah kemudian akan bertanya, setelah berhasil menjaga perut 280 juta rakyat, ke mana pengalaman, jaringan dan etos kerja itu akan diabdikan selanjutnya?

Jawabannya bukan diputuskan hari ini, namun Musyawarah Besar Ikatan Keluarga Alumni Universitas Hasanuddin yang dihelat 2 Mei 2026 telah memulai babaknya.

Pertama, meneguhkan kepemimpinan yang teruji di internal dengan kembali mengamanahkan beliau memimpin alumni.

Kedua, menitipkan mandat moral agar arsitektur kepemimpinan yang bekerja, dari ladang sampai ke meja makan, menjadi rujukan tata kelola republik ke depan. Sebab Indonesia tidak kekurangan orator, namun Indonesia rindu eksekutor yang bersih dan membumi.

Selamat atas terpilihnya kembali Bapak Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P sebagai Ketua Umum IKA Unhas Periode 2026-2030.

Dari Kampus Merah Universitas Hasanuddin, sebuah model telah lahir yang bernama Dr. Ir. H. Andi Amran Sulaiman, M.P. (*)

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN