SOROTMAKASSAR -- Luwu Utara.
Harga jeruk nipis yang anjlok hingga tak ada harganya di pasaran belakangan ini, membuat resah sejumlah petani di Kecamatan Mappedeceng, Desa Cendana Putih, Kabupaten Luwu.
Hal tersebut disampaikan Mama Ardy salah satu warga yang ditemui media ini, Selasa (02/04/2019). Ia mengakui petani membiarkan jeruk nipis tersebut hingga membusuk, dan dibuang dipinggir jalan pada beberapa tempat hingga ber ton-ton jumlahnya.
Sementara petani Imran di Kecamatan Mappedeceng tidak mengetahui secara pasti penyebab anjloknya harga jeruk nipis.
“Sudah satu bulan jeruk nipis kami mulai membusuk dan kuning serta dibiarkan tersimpan saja karena memang jualnya juga susah. Ini saja ada dua sampai tiga ton dari kemarin yang belum diproses penjualannya, ya terpaksa saya buang begitu saja,” ungkap Imran.
Imran mengatakan, ia tak masalah meskipun harga murah asal penjualan jeruk nipis tetap lancar.
“Tapi masalahnya harga murah, jualnya pun sulit, ini kan kita juga tambah sulit. Sudah beli tapi tak laku dijual. Kasihan petani, tapi kita juga tak bisa memaksa, kalau maksa malah kita yang tambah rugi,” ujarnya.
Hal senada diutarakan ibu Becce' pedagang jeruk nipis dari Masamba, Kecamatan Masamba yang mengaku juga kesulitan menjual barang dagangannya.
Becce' saat ini masih memiliki stok 4 ton jeruk nipis yang tertahan di teras depan rumahnya.
“Kita pilah-pilah, kalau ada yang busuk ya terpaksa dibuang. Mungkin lebih dari separuh jeruk nipis ini sudah mulai busuk. Kalau sudah begitu ya tidak laku,” terangnya.
Kondisi ini membuat petani terpaksa menanggung rugi karena tidak bisa menikmati hasil panen jeruk nipis di kebunnya. Buah siap panen pun dibiarkan.
"Saya biarkan di pohonnya, kalau ada yang beli saya petikan, tapi kalau tidak ada di biarkan, meski hingga busuk di pohon," ucap sejumlah petani jeruk di Mappedeceng. (yustus)








