Oleh : Oswar Muadzin Mungkasa (Perencana Ahli Utama Bappenas)
BELAKANGAN ini muncul wacana untuk mendorong aparatur sipil negara bekerja dari rumah (work from home atau WFH) setiap hari Jumat. Salah satu tujuan yang sering disebut adalah untuk menghemat energi dan mengurangi konsumsi bahan bakar minyak. Logikanya tampak sederhana: jika pegawai tidak perlu pergi ke kantor, maka perjalanan berkurang dan penggunaan BBM pun ikut menurun.
Namun kehidupan sehari-hari masyarakat perkotaan sering kali tidak sesederhana itu. Jika diperhatikan lebih dekat, kebijakan WFH setiap Jumat sebenarnya membuka sejumlah paradoks yang menarik. Pertama adalah paradoks energi yaitu berkurangnya perjalanan ke kantor tidak selalu berarti konsumsi energi secara keseluruhan ikut turun.
Kemudian, kedua adalah paradoks pergerakan keluarga, meskipun pekerjaan dilakukan dari rumah, berbagai kegiatan rumah tangga tetap menuntut pergerakan. Dan ketiga adalah paradoks produktivitas, yaitu ketika teknologi memungkinkan pekerjaan dilakukan secara daring, tidak semua proses kerja dapat berlangsung seefektif pertemuan tatap muka.
Dalam kerangka Indonesia, ada satu hal lain yang sering luput dari perhatian yaitu kegiatan sekolah tetap berjalan seperti biasa. Artinya, meskipun orang tua bekerja dari rumah pada hari Jumat, pergerakan keluarga belum tentu berkurang secara nyata. Anak-anak tetap harus berangkat ke sekolah. Banyak orang tua tetap mengantar atau menjemput mereka seperti hari-hari lainnya.
Bagi banyak keluarga di kota besar, keadaan seperti ini adalah keseharian kita. Pagi hari tetap dimulai dengan kebiasaan mengantar anak ke sekolah sebelum menjalankan kegiatan lainnya. Perjalanan menuju kantor sering kali hanyalah salah satu bagian dari rangkaian pergerakan harian yang lebih luas.
Dalam penelitian transportasi perkotaan, pola seperti ini dikenal sebagai trip chaining, yaitu ketika beberapa tujuan perjalanan digabungkan dalam satu rangkaian perjalanan. Seseorang mungkin berangkat dari rumah, mengantar anak ke sekolah, kemudian menuju kantor, dan dalam perjalanan pulang sempat berhenti untuk berbelanja.
Ketika perjalanan menuju kantor tidak terjadi, bukan berarti seluruh pergerakan tersebut ikut hilang. Sebaliknya, perjalanan tersebut bisa berubah menjadi perjalanan yang lebih terpisah (fragmented trips). Misalnya perjalanan khusus untuk mengantar anak, perjalanan lain untuk berbelanja, lalu perjalanan lain lagi untuk menghadiri kegiatan sosial.
Berbagai penelitian juga menunjukkan kemungkinan munculnya apa yang dikenal sebagai rebound effect. Ketika seseorang merasa telah “menghemat perjalanan” karena bekerja dari rumah, waktu yang tersedia justru dapat digunakan untuk melakukan kegiatan lain yang juga memerlukan perjalanan. Bisa jadi untuk berbelanja lebih sering, menghadiri kegiatan sosial, atau melakukan berbagai urusan yang sebelumnya tertunda.
Pengalaman sejumlah kota di dunia juga menunjukkan bahwa hubungan antara kerja jarak jauh dan penghematan energi tidak selalu sederhana. Di satu sisi, perjalanan menuju kantor memang berkurang. Namun di sisi lain, konsumsi energi rumah tangga cenderung meningkat karena penggunaan listrik, pendingin ruangan, dan perangkat elektronik selama jam kerja.
Dampak kebijakan WFH terhadap penghematan energi juga sangat dipengaruhi oleh karakteristik kota. Pada kota yang relatif kompak dengan jarak perjalanan yang pendek, pengurangan perjalanan ke kantor mungkin tidak menghasilkan penghematan energi yang terlalu besar. Sebaliknya, pada wilayah metropolitan yang luas dengan pola komuter jarak jauh, perubahan pola kerja dapat membawa dampak yang berbeda.
Pemilihan hari Jumat sebagai hari WFH juga menarik untuk diperhatikan. Dalam praktik kehidupan sehari-hari, hari Jumat sering kali sudah terasa sebagai pintu menuju akhir pekan. Tidak sedikit orang yang mulai merencanakan perjalanan ke luar kota atau mengunjungi keluarga sejak hari tersebut.
Jika bekerja dari rumah pada hari Jumat memberi keluwesan tambahan, sebagian orang mungkin memilih memulai perjalanan lebih awal. Dalam keadaan seperti ini, pergerakan yang tadinya diharapkan berkurang justru bisa bergeser menjadi perjalanan jarak menengah atau bahkan jarak jauh yang mengonsumsi energi lebih besar dibanding perjalanan rutin ke kantor.
Di luar persoalan pergerakan dan energi, kebijakan WFH juga membawa dampak terhadap cara organisasi bekerja. Dalam praktik sehari-hari, tidak semua pekerjaan dapat dilakukan secara optimal melalui pertemuan daring. Diskusi yang membutuhkan pendalaman gagasan, koordinasi lintas unit, atau proses pengambilan keputusan sering kali berjalan lebih efektif ketika dilakukan secara langsung. Pertemuan tatap muka juga membuka ruang bagi percakapan spontan dan pertukaran gagasan yang sering kali sulit muncul dalam ruang pertemuan virtual.
Pada akhirnya, kebijakan publik yang efektif tidak hanya ditentukan oleh niat baiknya, tetapi juga oleh sejauh mana dapat dipahami perilaku masyarakat yang menjadi sasaran kebijakan. Tanpa pemahaman tersebut, WFH setiap Jumat berisiko hanya menjadi langkah administratif yang tampak menjanjikan di atas kertas, tetapi memberikan dampak yang jauh lebih terbatas dalam kehidupan sehari-hari. (*)
