SOROTMAKASSAR - JAKARTA.
Ketua Umum DPP GEMABUDHI (Generasi Muda Buddhis Indonesia) yang juga menjabat sebagai Ketua Komisi XII DPR-RI, Dr. Bambang Patijaya, SE, MM, melayangkan tantangan terbuka kepada seluruh kadernya. Ia mendesak para pemuda Buddhis untuk tidak cepat berpuas diri, melainkan terus mengasah kapasitas diri dan mempertajam wawasan dalam merespons berbagai krisis strategis tanah air.
Pesan bernada pembakar semangat itu mengemuka saat ia resmi membuka "Pelatihan Kader Nasional GEMABUDHI" yang mengusung tajuk “Membentuk Kader Gemabudhi yang Berintegritas, Visioner, dan Berdampak Bagi Bangsa”. Forum bergengsi yang dihelat pada Jumat (24/7/2026) di Jakarta tersebut menjadi arena krusial untuk membedah isu-isu vital—mulai dari krisis energi, pangan, dan air, hingga isu kelestarian lingkungan serta urgensi estafet kepemimpinan.
Di hadapan para peserta, Bambang secara tegas mengingatkan bahwa proses pembinaan kader tidak boleh terjebak dalam lingkaran rutinitas internal atau sekadar menggugurkan kewajiban organisasi. Menurutnya, pemuda masa kini dituntut memiliki sudut pandang makro agar mampu memetakan dinamika yang tengah bergolak di tengah warga.
“Kader harus memiliki pemahaman yang lebih luas. Jangan hanya berhenti pada persoalan ritual, tetapi harus mampu melihat persoalan bangsa dan hadir sebagai warga negara yang berbobot serta mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” cetusnya penuh penekanan.
Ia menambahkan, generasi muda memegang kunci jawaban atas berbagai persoalan mendasar yang berdampak langsung pada hajat hidup orang banyak. Tantangan di sektor energi, pangan, dan ketersediaan air bersih bukan sekadar urusan regulasi di tingkat pusat, melainkan penentu masa depan dan keberlangsungan hidup seluruh rakyat Indonesia.
Oleh karena itu, kader GEMABUDHI digembleng untuk menumbuhkan pola pikir kritis dan komprehensif. Berbekal pemahaman yang matang dari pelatihan ini, para peserta diharapkan dapat membawa perubahan nyata saat kembali ke daerah asal masing-masing, bukan sekadar membawa pulang wacana.
Tak hanya persoalan sumber daya alam, isu pelestarian lingkungan hidup turut menjadi sorotan utama dalam agenda peningkatan kapasitas ini. Bambang menegaskan kembali bahwa keberadaan sebuah organisasi pemuda baru dianggap bernilai jika mampu memberikan dampak sosial yang nyata, bukan sekadar riuh dalam acara-acara seremonial.
Komitmen ekologis ini sebenarnya telah diwujudkan GEMABUDHI melalui pelbagai aksi nyata, salah satunya lewat gerakan pembuatan 'eco enzyme'—sebuah langkah konkret organisasi dalam merawat ekosistem dan memupuk kepedulian lingkungan.

Aksi tersebut menjadi bukti sahih bahwa sistem kaderisasi mampu ditransformasikan menjadi gerakan riil yang menyentuh masyarakat dan alam. “Kader harus mampu melampaui kegiatan formal, menciptakan peluang kehidupan, dan membangun ekosistem yang lebih baik,” ujar Bambang berpesan.
Di samping penguatan daya kritis dan kepedulian lingkungan, proses regenerasi yang sehat menjadi pilar utama penjaga napas perjuangan organisasi. Kaderisasi yang berkelanjutan adalah harga mati untuk mencetak figur-figur pemimpin masa depan yang tangguh, berintegritas, dan siap naik kelas.
Pada kesempatan yang sama, Bambang juga menyoroti pentingnya literasi digital bagi para kader di tengah serbuan ombak informasi tanpa filter. Pemuda hari ini wajib memiliki pijakan pemikiran yang kokoh dan ketajaman naluri kritis agar tidak gampang terombang-ambing oleh hoaks maupun disinformasi yang menyesatkan.
Melalui ruang penggemblengan ini, para kader GEMABUDHI tak sekadar dibekali teori, tetapi juga disuntikkan perspektif baru tentang peta tantangan nasional serta dorongan moral untuk mengambil peran aktif sesuai kapasitas diri.
Pada akhirnya, kaderisasi bukan cuma soal menyiapkan sosok pemimpin untuk esok hari, melainkan menempa generasi hari ini yang peka terhadap realitas dan berani memulai langkah nyata sejak sekarang.
Dari mimbar kaderisasi inilah, GEMABUDHI bertekad terus melahirkan talenta-talenta muda yang berwawasan global, berintegritas tinggi, mencintai alam, dan siap memberi bukti nyata bagi kemajuan Indonesia. (*)


