Sihir Dua Assist Lionel Messi Bawa Argentina Comeback Epik ke Final, Siap Menantang Spanyol di Partai Puncak

SOROTMAKASSAR - MAKASSAR.
Puncak perhelatan akbar Piala Dunia 2026 akhirnya mengonfirmasi bentrokan mahadahsyat antara Spanyol kontra Argentina di babak final, demi menahbiskan diri sebagai penguasa takhta tertinggi sekaligus pemilik mahkota juara dunia. Palagan pemungkas ini siap tersaji di New York New Jersey (MetLife Stadium, red.) yang terletak di East Rutherford, New Jersey, Amerika Serikat, Senin dinihari (20/07/2026); sementara Stadion Hard Rock Miami, Florida, Amerika Serikat akan menjadi saksi bisu duel pelipur lara dalam perebutan posisi ketiga dan keempat antara Prancis versus Inggris, Minggu dinihari (19/07/2026).

Rilis mutakhir peta peringkat empat besar FIFA pasca-fase perempat final mencatat bahwa kuartet elite ini menempatkan sang juara bertahan Argentina di puncak tertinggi dengan koleksi 1.876,12 poin, disusul Prancis di peringkat kedua lewat raihan 1.874,71 poin, serta Spanyol (1.870,70 poin) dan Inggris (1.827,05 poin) yang berurutan mengunci posisi ketiga dan keempat.

Eskalasi pergeseran koefisien peringkat ini bergerak teramat dinamis menjelang sepak mula laga semifinal, terkecuali posisi The Three Lions Inggris yang cenderung stagnan di peringkat keempat global.

ROAD TO FINAL

Spanyol sukses menyegel tiket ke partai puncak pada laga semifinal pertama setelah memetik kemenangan telak dua gol tanpa balas atas Prancis, berkat sumbangsih gol Mikel Oyarzabal dan Pedro Porro; sebuah hasil yang mengatrol peringkat La Furia Roja naik dua tingkat sekaligus menggeser Prancis dan Argentina masing-masing satu tangga ke posisi kedua dan ketiga.

Armada asuhan Luis de la Fuente tersebut tampil superior meredam agresivitas Les Bleus Prancis, yang di sepanjang laga seolah terhipnotis hingga kehilangan daya ledak mengerikan mereka seperti pada laga-laga terdahulu.

Petaka bagi kubu Prancis mulai pecah pada pertengahan paruh pertama; Oyarzabal sukses membuka keran keunggulan melalui eksekusi titik putih penalti pasca-wasit menghukum keteledoran bek kiri Prancis, Lucas Digne, yang menjatuhkan winger lincah Lamine Yamal di area terlarang saat berupaya menyapu bola.

Setelah mempertontonkan performa yang kurang menggigit di babak pertama, Prancis semula diproyeksikan bakal tampil lebih menyerang selepas turun minum; namun justru Spanyol yang tampil kian percaya diri untuk mendominasi arus momentum.

Porro kemudian memperlebar jarak skor menjadi gol kedua bagi Spanyol, usai memperagakan kombinasi umpan satu-dua yang memanjakan mata bersama Dani Olmo, sebelum dengan dingin menaklukkan penjaga gawang lawan lewat penyelesaian akurat ke tiang dekat.

Meski masih memiliki sisa waktu lebih dari setengah jam untuk membalikkan keadaan, armada Prancis tetap menemui jalan buntu untuk membongkar barikade pertahanan Spanyol yang menggalang pertahanan dengan sangat disiplin.

Di sepanjang turnamen sejauh ini, gawang Matador Spanyol tercatat baru kebobolan satu gol saja; mereka tetap memperagakan permainan tenang, terorganisasi, dan sarat kualitas kelas tinggi hingga peluit panjang ditiupkan, mengunci kemenangan absolut hingga laga bubar.

Pada laga semifinal kedua, atmosfer pertandingan bagai masih menyisakan bara dendam lama atas gol tangan Tuhan milik Maradona yang legendaris serta romansa historis perang Malvinas, kala Inggris menjajal kekuatan sang juara bertahan Argentina.

Pertempuran berlangsung ketat, sengit, dan dibumbui tensi tinggi yang mendidih sejak menit pertama; bentrokan fisik berjalan sangat alot dan keras di sektor lini tengah. Skuad Inggris langsung mengambil inisiatif gempuran, sementara Tim Tango Argentina mengandalkan skema bermain agresif lewat kawalan ketat (pressing) guna memutus sirkulasi bola pasukan Thomas Tuchel.

Kedua kubu saling melakukan jual beli serangan secara masif, namun kedisiplinan tembok pertahanan di masing-masing lini belakang membuat paruh pertama terpaksa ditutup dengan skor kacamata 0-0.

Memasuki paruh kedua, Tiga Singa Inggris berhasil memecah kebuntuan dan memimpin lebih dulu pada menit ke-54 lewat sontekan dingin Anthony Gordon; gol yang seketika menempatkan Inggris di atas angin.

Demi mengamankan keunggulan tersebut, juru taktik Inggris memutuskan untuk merotasi komposisi pemainnya dengan menarik pilar berkarakter menyerang untuk digantikan pemain bertahan, namun keputusan ini justru memicu malapetaka. Pelatih Argentina, Lionel Scaloni, langsung merespons dengan kontra strategi jenius, melakukan tiga pergantian masif sekaligus dengan memasukkan Nicolas Otamendi, Gonzalo Montiel, dan Rodrigo De Paul guna mengistirahatkan Lisandro Martinez, Nahuel Molina, serta Giuliano Simeone demi menggenjot daya gedor.

Substitusi taktis dari sang pelatih terbukti jitu menyegarkan sektor pertahanan, sehingga penyerang sayap cepat Inggris sekelas Gordon tidak lagi memperoleh ruang tembak yang ideal di sisa waktu babak kedua.

Gempuran tanpa henti dari Argentina akhirnya membuahkan hasil manis pada menit ke-85; eksekusi jarak jauh Enzo Fernandez sejatinya sempat ditepis secara gemilang oleh Pickford. Namun, semenit berselang, gelandang Chelsea tersebut kembali melesatkan sepakan keras memanfaatkan assist akurat dari Messi, yang kali ini meluncur deras tanpa mampu dijangkau sang penjaga gawang, mengubah papan skor menjadi sama kuat 1-1.

Lionel Messi yang mengemban peran sebagai playmaker sukses menjalankan mandatnya dengan sempurna untuk memancing bek Inggris keluar dari sarangnya, sementara masuknya Lautaro Martinez kian mengoyak dan membuat kewalahan barisan pertahanan Thomas Tuchel.

Drama sesungguhnya baru meledak pada masa tambahan waktu (injury time); tepat di menit 90+1, dentuman Alexis Mac Allister sempat membentur mistar gawang dengan keras. Di menit 90+2, bola liar tetap berhasil dikuasai sepenuhnya oleh armada Argentina hingga Lionel Messi mengirimkan umpan matang nan mematikan yang langsung dikonversi menjadi gol melalui sundulan tajam Lautaro Martinez.

Si kulit bundar meluncur deras merobek jala gawang tanpa sanggup dihalau Pickford dan membalikkan kedudukan menjadi 2-1; sebuah aksi comeback yang luar biasa dari Albiceleste.

Inggris berupaya keras membalas di sisa sembilan menit tambahan waktu yang menegangkan, namun benteng pertahanan Argentina tampil solid menahan gempuran hingga peluit panjang berbunyi.

Kemenangan dramatis penuh emosi ini mengantarkan Argentina melenggang gagah ke partai final Piala Dunia 2026. Sang juara bertahan kini bersiap menghadapi tantangan Spanyol dalam laga pamungkas perebutan supremasi tertinggi sepak bola dunia; sementara Inggris kembali harus meratapi kegagalan mereka dalam menuntaskan ambisi merebut trofi juara yang terakhir kali mereka dekap 60 tahun silam.(Aan007)

Politik

Pendidikan

Opini

Berita Makassar

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN