Anis Kaba, Seniman Yang Tak Egois

Oleh. Moeh. David Aritanro (Baba Baco)

Lebih satu dasawarsa, saya diajak kerabat dekat, namanya Yudhisthira Sukatanya pun biasa disapa Edy Thamrin mengajak kesebuah lorong kecil dibilangan Jln. Kelinci Makassar. Rumah seniman dan kolektor buku, M. Anis Kaba.

Di masa purnabakti Perhutani, dia mengisi waktunya menulis puisi, menerbitkan buku dan mengoleksi buku-buku tua yang tentu berkaitan dengan hobbynya.Saat itu, saya dan Yudhistira dipersilahkan duduk, tak lama kami disuguhi kopi hitam lalu almarhum berkata, tolong isi buku tamuku sebagai bukti catatanku acapkali teman bertandang kemari.

“Suatu kehormatan dan kebanggaan saya telah dikunjungi dan menjadi tradisi setiap tamu yang berkunjung saya mintanya mengisi buku tamu pak David,” ujar Anis Kaba ketika itu.

Menurut mendiang Anis Kaba, biasanya hanya mendengar nama santer dibicarakan di kesenian, nama Bung Moehammad David Aritanto. Tapi baru kali ini saya bertemu muka. Terima kasih pak Yudhis sudah bawa dan perkenalkan saya dengan pak David. Yudhispun banyak bercerita tentang siapa saya dan bagaimana persaudaraan kami saat kami masih mudah berkesenian sekitar tahun 1979.

Setelah M. Anis Kaba kenal saya. Maka sejak itu beliau tak henti hentinya menelpon saya untuk sering berkunjung kerumahnya. Saat itu, almarhum suka dan senang saat kedatangan tamu. Ternyata tujuan beliau mengajak saya kerumahnya, selain untuk shering-shering pengetahuan. Beliau pun ingin perkenalkan saya sebagai seniman, budayawan dan sejarahwan Tionghoa blesteran Bugis Makassar yang juga berprofesi sebagai jurnalis.

Dari Anis Kaba saya kenal dan akrab dengan maestro pelukis dan penyair Frans Nadjira, termasuk teman-teman akrabnya M. Anis Kaba, seperti pensiunan departemen penerangan yang bernama M. Arman Arfa. Sejak saya berkenalan Frans Nadjira dan M. Arman, saya keduanya pun berlanjut menjalin hubungan erat untuk saling berbagi pengetahuan.

Suatu waktu Yudhistira pernah sampaikan ke almarhum, kalau saya juga pelukis dan decorator/arstistik. Oleh M. Anis Kaba pun meminta sebuah lukisan buah karya tangan saya untuk dipajang diruang perpustakaannya.

Lukisan yang saya berikan dengan tema kondisi tentang pintu gerbang benteng Fort Rotterdam di era ketika Belanda menjajah kita. Lukisan itu dia pajang di interior rumah M. Anis Kaba. Dan mempopulerkan karya lukisan saya kepada siapa saja yang datang ke rumahnya.

M. Anis Kaba meskipun memiliki koleksi yang telah dia baca ratusan buku sejarah, tapi bagi saya M. Anis Kaba bukan sosok seniman yang egois. Sebab kunjungan saya siang dan malam kerumahnya, selalu dimanfaatkan shering-shering cerita sejarah bahkan kerap bertanya kepada saya tentang sejarah yang saya ketahui.

Sejarah yang saya paparkan tentang sejarah sinergi dan asimilasi Tionghoa di Sulawesi Selatan. Apa yang saya sampaikan, selalu beliau membenarkannya.Saat itu, beliaupun mengambil buku sejarah inventarisasinya dan berkata, hebat wawasannya pak David ini, ada dalam buku koleksi saya. Ini bukunya. (sambil menyerahkan) “Ngappai tawaa” pak Arman, ngappai pak David. Pada hal saya sendiri tak pernah memiliki buku tersebut. Mendengar hal tersebut, M. Arman berkata memang benar apa yang diceritakan David.

Saya, M. Anis Kaba dan M. Arman sebelum masa pandemi covid 19 memang kerap berkumpul untuk cerita-cerita sejarah. Sesekali saya buat cerita lelucon untuk buat tertawa keduanya. Agar hidup ini terasa lebih santai dan rileks. Karena bagi saya, sumber segala penyakit berawal dari pikiran kemudian turun kenurani.

“Insyah Allah. Tetap tenang, tentram dan damai jiwamu disisi Allah kanda M. Anis Kaba. Al. Fatiha Aamiin,” gumamku.

Taeng Gowa, Selasa 30 Januari 2024. (*rk()

Politik

Pendidikan

Opini

Kuliner Nusantara

Newsletter

WWW.SOROTMAKASSAR.COM

Taman Telkomas, Jln Satelit IV No. 64 Makassar, Sulawesi Selatan.
Telp/HP : 0411-580918, 0811448368, 082280008368.

Jln Sultan Hasanuddin No. 32 (Kembang Djawa) Makassar, 
Sulawesi Selatan. Telp/Hp : 0811446911. 

Copyright © 2018 SOROTMAKASSAR.COM. All Rights Reserved.

REDAKSIDISCLAIMER | IKLAN