Oleh : Haidar
Saya menutup hari liputan panjang di sebuah instansi pemerintahan dengan singgah di Kafe Virendy, tempat yang tak sekadar ruang rehat, tetapi juga denyut lain dari kerja-kerja jurnalistik redaksi Pedoman Rakyat dan Sorot Makassar.
Seharian berada di lingkar birokrasi bukan perkara ringan. Dari pagi hingga sore, energi terkuras menyimak paparan, menimbang pernyataan, mencatat fakta, lalu memilah mana yang layak diberitakan dan mana yang mesti diuji ulang. Di ruang-ruang resmi itu, kata-kata sering disusun rapi, namun makna sesungguhnya kadang bersembunyi di balik kalimat normatif dan senyum protokoler.
Saat senja mulai turun, Kafe Virendy menjadi persinggahan yang terasa alamiah. Di sudut yang tenang, kopi hitam andalan yang selama ini setia menemani ku, tersaji tanpa basa-basi. Hitam, pahit, dan jujur. Seperti kerja jurnalistik yang idealnya berdiri apa adanya, tanpa polesan kepentingan.
Di tempat itu, batas antara kafe dan ruang redaksi nyaris tak terlihat. Percakapan ringan kerap bersinggungan dengan diskusi serius soal berita esok hari. Asap kopi dan denting gelas menjadi saksi bagaimana fakta-fakta lapangan diendapkan, dipikirkan ulang, lalu dirangkai menjadi narasi yang berimbang.
Kopi hitam itu bukan sekadar minuman pelepas lelah. Ia menjadi jeda untuk menata kembali pikiran, menguji nurani, sekaligus mengingatkan tugas wartawan bukan hanya mencatat apa yang dikatakan pejabat, melainkan memastikan kepentingan publik tetap menjadi pusat perhatian. Dari meja kafe inilah sering lahir sudut pandang yang lebih jernih, lebih manusiawi.
Meliput di instansi pemerintah mengajarkan kekuasaan dan kebijakan selalu membutuhkan pengawasan. Namun pengawasan itu tak harus gaduh. Ia bisa lahir dari ketekunan, konsistensi, dan keberanian untuk tetap kritis meski dalam kesunyian. Seperti kopi hitam yang tak menarik perhatian dengan warna-warni, tetapi meninggalkan kesan kuat bagi penikmatnya.
Di Kafe Virendy, saya kerap menyadari kerja jurnalistik adalah maraton panjang, bukan lari cepat. Ada hari-hari penuh tekanan, ada pula saat untuk berhenti sejenak, menarik napas, dan menguatkan niat. Segelas kopi hitam menjadi penanda idealisme masih dirawat, meski realitas lapangan tak selalu ramah.
Pada akhirnya, antara ruang liputan dan meja kafe Virendy, wartawan belajar satu hal penting, yaitu menjaga jarak yang sehat dari kekuasaan, sekaligus tetap dekat dengan nurani.
Dari situlah berita yang jujur menemukan jalannya, dan dari situlah Pedoman Rakyat dan Sorot Makassar terus berusaha setia pada namanya, menjadi pedoman, bukan sekadar penonton.
