SOROTMAKASSAR -- SINJAI, Suasana Pantai Mallenreng, Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, mendadak dipenuhi sirene dan aksi penyelamatan korban saat ratusan personel mengikuti Simulasi Kesiapsiagaan Kegawatdaruratan Bahari Berbasis Masyarakat yang digelar Dewan Pengurus Daerah (DPD) Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) Kabupaten Sinjai, Minggu (28/6/2026).
Kegiatan tersebut dibuka langsung oleh Bupati Sinjai, Dra. Hj. Ratnawati Arif, didampingi Wakil Bupati Sinjai, Andi Mahyanto Mazda. Turut hadir unsur Forkopimda, Sekretaris Daerah Sinjai Andi Jefrianto Asapa, Pelaksana Tugas Kepala BPBD Sinjai H. Sofwan Sabirin, pengurus DPW PPNI Sulawesi Selatan, serta jajaran DPD PPNI Sinjai.
Ketua DPD PPNI Kabupaten Sinjai, Andi Ariyani Djalil, mengatakan bahwa bencana merupakan peristiwa yang tidak pernah diharapkan, namun kesiapsiagaan menjadi kunci utama dalam meminimalkan risiko dan dampak yang ditimbulkan.
Menurutnya, penanganan keadaan darurat tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan koordinasi dan kolaborasi lintas sektor agar proses evakuasi hingga penanganan korban dapat berjalan cepat dan tepat.
"Semoga simulasi ini menjadi contoh yang baik dan akan terus kami evaluasi sebagai bahan perbaikan untuk pelaksanaan di masa mendatang," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Sinjai Dra. Hj. Ratnawati Arif memberikan apresiasi kepada DPD PPNI Kabupaten Sinjai atas inisiatif menyelenggarakan simulasi yang dinilai sangat strategis dalam meningkatkan kapasitas masyarakat menghadapi kondisi darurat, khususnya di wilayah pesisir.
Menurutnya, PPNI telah menunjukkan komitmen nyata, tidak hanya dalam memberikan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan, tetapi juga melalui peran aktif dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat menghadapi berbagai potensi bencana.
"Hal ini sejalan dengan tema yang diusung PPNI Sinjai, yakni Perawat Kuat, Bersinergi Membangun Sinjai'ta," ujar Bupati.
Ia menambahkan, simulasi tersebut menjadi sarana pembelajaran bagi tenaga kesehatan, perawat, dan masyarakat dalam melakukan pertolongan pertama pada kondisi kegawatdaruratan di wilayah perairan.
Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat sinergi antara tenaga kesehatan, BPBD, TNI, Polri, pemerintah desa, dan seluruh elemen masyarakat.
Sekitar 300 peserta terlibat dalam simulasi ini, terdiri dari tenaga kesehatan, personel BPBD Sinjai, TNI, Polri, pemerintah desa, serta warga setempat.
Dalam skenario simulasi, peserta memperagakan penanganan bencana gempa bumi yang memicu kondisi darurat di kawasan pesisir, lengkap dengan proses evakuasi korban meninggal dunia maupun korban luka-luka.
Seluruh tahapan dilakukan secara terpadu untuk menguji kesiapan personel, koordinasi antarinstansi, hingga kecepatan penanganan korban saat terjadi bencana sebenarnya. (Iz)
