Menyambung Asa Anak Yatim Jabalia: Jejak Ketabahan Sheikh Dr. Ibrahim Abdullah di Tanah Sulawesi

SOROTMAKASSAR -- GOWA, Setiap nama memiliki kisahnya sendiri, namun nama Sheikh DR. Dr. Ibrahim Abdullah, Orthu.Surg membawa beban sejarah, duka, dan ketangguhan yang luar biasa. Berdiri di panggung peringatan Haul Akbar ke-3 Syekh Yusuf Al-Makassari di Kabupaten Gowa pada Sabtu (25/07/2026), dokter spesialis bedah tulang sekaligus pendakwah asal Gaza, Palestina ini menjadi saksi betapa kuatnya ikatan persaudaraan yang merentang dari Sulawesi hingga ke tanah para nabi.

Bantuan Pendidikan dan Pangan bagi Yatim Jabalia

​Momen puncak dalam peringatan haul tersebut ditandai dengan penyerahan donasi kemanusiaan sebesar Rp10 juta yang ditujukan bagi 200 anak yatim piatu di Jabalia, Gaza. Dana bantuan yang bersumber dari Yayasan Hudjaemah Mappaturung Parawansa tersebut diserahkan atas nama Ikatan Keturunan Syekh Yusuf Al Makassary (IKSYAM).

​Penyerahan dilakukan secara langsung oleh perwakilan IKSYAM, Cita Marlika Parawansa, S.H., M.Kn., dengan didampingi Ketua Panitia Haul Akbar, Ir. Hj. Takudaeng Parawansa. Selain bantuan finansial, IKSYAM menganugerahkan Certificate of Appreciation sebagai bentuk penghormatan atas perjuangan dan pengabdian kemanusiaan Sheikh Ibrahim.

​Prosesi penyerahan ini turut disaksikan oleh Ketua PPSP IKIP UP, Prof. DR. Harris Arthur Hedar, serta Inisiator Haul Akbar, DR. Leonard Eben Ezer Simanjuntak. Bantuan dana ini dialokasikan secara independen bersama relawan lokal di Gaza untuk menjamin keberlangsungan pendidikan daring (online education) serta pemenuhan kebutuhan pangan harian (food) bagi anak-anak yatim di kawasan Jabalia.

Jabalia: Potret Ketahanan di Tengah Puing Perang

​Wilayah Jabalia di bagian utara Gaza kini menjadi salah satu saksi bisu kehancuran akibat agresi militer dan blokade zionis. Di bawah puing-puing rumah yang hancur, ribuan anak harus merelakan orang tua mereka yang gugur. Akses terhadap kebutuhan mendasar seperti makanan bergizi, air bersih, serta pendidikan formal terputus total.

​Di tengah keterbatasan yang mencekik tersebut, bantuan modal pendidikan daring dan pangan menjadi penyelamat asa bagi anak-anak yatim. Uluran tangan dari tanah Makassar ini tidak sekadar memberi bantuan fisik, melainkan menyalakan kembali lilin harapan bahwa mereka tidak berjuang sendirian di balik tembok isolasi Gaza.

Kisah Terbangun di Banda Aceh: Takdir Sheikh Dr. Ibrahim Abdullah

​Penerima donasi tersebut, Sheikh Dr. Ibrahim Abdullah, bukanlah sosok biasa. Beliau merupakan dokter ahli bedah tulang yang masih memiliki garis keturunan dari ulama besar Syekh Abdul Qadir Jaelani (jalur Yamanian). Sebelum konflik memuncak, beliau sempat bermukim nyaman di Norwegia.

​Namun, panggilan kemanusiaan membuatnya memutuskan kembali ke Gaza untuk bertugas sebagai dokter sukarelawan (volunteer) di Rumah Sakit Indonesia. Di sana, beliau mendedikasikan hidupnya untuk merawat dan menyelamatkan nyawa para korban gempuran militer.

​Tragedi hebat menimpanya ketika kediamannya dihantam bom oleh militer zionis. Seluruh anggota keluarganya gugur seketika dalam serangan tersebut, sementara Sheikh Ibrahim mengalami luka berat dan terbaring koma.

​Oleh NGO Bulan Sabit bersama Palang Merah Indonesia (PMI), beliau dievakuasi keluar dari zona konflik dalam kondisi tak sadarkan diri. Setelah terbaring koma selama sembilan hari, beliau terbangun dan terkejut mendapati dirinya sudah tidak berada di Gaza, melainkan terbaring di sebuah rumah sakit di Banda Aceh.

​Kehilangan seluruh keluarga dan harus memulai hidup baru di tanah asing dalam kondisi trauma berat tentu bukan perkara mudah. Kendati demikian, Sheikh Ibrahim telah terbiasa bertahan hidup (survive) lantaran sejak kecil telah mengalami ketidakadilan dan diskriminasi di bawah penjajahan zionis di Gaza.

Dari Panggung Syiar Hingga Bumi Makassar

​Saat ini, Sheikh Ibrahim memilih bermukim di Makassar sebagai pusat syiar agamanya. Selama 11 bulan terakhir, beliau telah menjelajahi berbagai penjuru Nusantara—mulai dari Aceh, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua—untuk melakukan safari dakwah.

​Di sela-sela safari dakwahnya, beliau tetap mengabdikan ilmunya dengan mengajar bahasa Arab di pesantren-pesantren serta memberikan seminar kesehatan. Bagi Sheikh Ibrahim, setiap helai nafas yang tersisa adalah kesempatan untuk mengabdi dan menyambung tali kasih antara Indonesia dan Palestina.

​Kisah ini menjadi bukti bahwa jarak geografis tidak pernah sanggup memisahkan simpati kemanusiaan. Dari peringatan Haul Syekh Yusuf Al-Makassari di Gowa, pesan ketabahan dan kepedulian itu terus bergema hingga ke reruntuhan Jabalia. ( Ardhy M Basir )