SOROTMAKASSAR -- Toraja.
Pemilu serentak 2019, yakni Pilpres dan Pileg berlangsung semakin sengit. Bukan hanya persaingan parpol lama dan pendatang baru, tapi juga persaingan figur para caleg petahana maupun caleg pendatang baru berlomba untuk merebut suara pemilih.
Khusus Pileg, dengan pergerakan masif caleg pendatang baru disertai gaya berkampanye yang inovatif atau lazim disebut gaya kampanye jaman now, sehingga membuat caleg petahana maupun politisi senior terancam di hampir seluruh daerah di Indonesia.
Seperti di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel 3 yang meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Kota Palopo, Lutra, dan Lutim. Salah satu Caleg utusan PDI Perjuangan, yakni Paskaria Tombi, gencar melakukan blusukan ala Jokowi.
Caleg pendatang baru nomor urut tujuh (7) di dapil Sulsel 3 ini mulai mengancam caleg petahana dan politisi senior dengan gaya berkampanye yang masif dan terstruktur.
Jebolan dari Universitas Indonesia ini lebih banyak turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil masyarakat yang terpinggirkan.
Dari pagi, siang, sampai tengah malam ia menyusuri kampung-kampung tak kenal lelah. Dengan ketulusan hatinya, ia menyatu dan membaur dengan warga di daerah-daerah terisolir. Karena kepedulian dan komitmen yang ditunjukkan itu, sehingga warga pun menjulukinya sebagai wonder women.
Paskaria Tombi menyusuri kampung-kampung terisolir di malam hari.
Wanita muda ini mengaku banyak mendapat pengalaman selama terjun langsung bertatap muka dengan warga. Keluhan bahkan tangisan warga didengarkan dan ditampung untuk dipenuhi jika nantinya duduk di kursi parlemen.
“Banyak pengalaman yang saya dapatkan setelah menjadi caleg. Termasuk kondisi rakyat ternyata masih banyak yang tidak diperhatikan selama ini. Saya jadi terharu dan berapa kali menangis di lapangan melihat masyarakat yang serba kekurangan. Macam-macam saya dapatkan di lapangan, yang paling terharu itu di Toraja, ada warga yang hanya minta sarung ketika saya terpilih kelak,” cerita Paskaria Tombi sambil meneteskan air matanya.
Wanita yang berprofesi sebagai advokat dan kurator itu mengaku prihatin melihat kondisi rakyat yang banyak dijumpai langsung di beberapa daerah. Ia mengaku semakin bersemangat merebut satu kursi ke senayan demi memperjuangkan rakyat di daerah-daerah terisolir.
“Kalau saya tidak maju caleg, saya tidak akan pernah tahu kehidupan sesama kita seperti ini. Ini sungguh pengalaman yang tidak akan saya lupakan meski saya tidak terlipih nantinya. Tapi ini semua membulatkan tekad saya untuk kemajuan rakyat,” ujarnya kepada media ini, Kamis (11/04/2019).
“Jadi memang gaya kampanye yang saya lakukan lebih banyak bertatap muka dengan warga dan memanfaatkan medsos. Jadi kita tidak seperti yang lain mengandalkan finansial saja, kita mau memperlihatkan kepada masyarakat cara berpolitik yang benar, tidak boleh melakukan politik uang,” tegasnya.
Paskaria Tombi adalah wanita berdarah Toraja (Tikala-Bittuang) juga ada Menado nya yang telah lebih dari 10 tahun fokus bekerja dalam bidang hukum sebagai advokat dan kurator di Jakarta.
Sang kurator muda dan enerjik ini, berjanji apabila terpilih nanti maka visi dan misi adalah penguatan perempuan (women empowering), selain itu peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, kemudian perbaikan dan pengawalan pemerataan pembangunan.
Ia menjelaskan, penguatan perempuan (women empowering) melalui pembuatan dan pengawalan regulasi, dengan keberpihakan kepada perempuan agar dapat berkiprah dimanapun berada.
Sementara peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan melalui pembuatan dan pengawalan regulasi, dengan perbaikan basis data sehingga program Indonesia “Pintar & Sehat” dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berada pada zona sangat membutuhkan.
Selanjutnya, perbaikan dan pengawalan pemerataan pembangunan “glokalitas” adalah globalitas dan potensi lokal yang harus berjalan secara sinergi melalui pembuatan regulasi dan penganggaran (budgeting) yang tepat sasaran agar tercapainya peningkatan produktivitas dan pemerataan pembangunan sesuai dengan Nawacita Presiden Joko Widodo.
Sekedar diketahui, beberapa caleg petahana di Dapil Sulsel 3 seperti Luthfi A Mutty (NasDem), Abu Bakar Wasahua (PPP), Amran (PAN) dan Bahrum Daido (Demokrat), Felicitas Tallulembang (Gerindra), Andi Fauziah Pujiwatie Hatta (Golkar). Sementara satu incumbent lainnya yang sudah tak maju adalah Markus Nari dari Partai Golkar.
Nama lain yang patut diperhitungkan adalah Agus Arifin Nu’mang (Gerindra/mantan Wakil Gubernur Sulsel), La Tinro La Tunrung (Gerindra/mantan Bupati Enrekang), Muhammad Fauzi (Golkar/suami Bupati Luwu Utara), Ani Nurbani (NasDem/istri wakil Bupati Luwu Timur), Eva Stevany Rataba (NasDem/istri wakil Bupati Toraja Utara), Hayarna Hakim (NasDem/istri Bupati Luwu terpilih).
Selain itu, ada juga Frederik Batti Sorring (Demokrat/mantan Bupati Toraja Utara), Muhammad Dhevy Bijak (Demokrat/anak Wakil Bupati Luwu terpilih), Rusdi Masse (NasDem), Darwis Ismail (PPP), Jalamuddin Jafar (PAN) dan APA Timo Pangerang. (yustus)
Pemilu serentak 2019, yakni Pilpres dan Pileg berlangsung semakin sengit. Bukan hanya persaingan parpol lama dan pendatang baru, tapi juga persaingan figur para caleg petahana maupun caleg pendatang baru berlomba untuk merebut suara pemilih.

Khusus Pileg, dengan pergerakan masif caleg pendatang baru disertai gaya berkampanye yang inovatif atau lazim disebut gaya kampanye jaman now, sehingga membuat caleg petahana maupun politisi senior terancam di hampir seluruh daerah di Indonesia.
Seperti di Daerah Pemilihan (Dapil) Sulsel 3 yang meliputi Kabupaten Sidrap, Pinrang, Enrekang, Tana Toraja, Toraja Utara, Luwu, Kota Palopo, Lutra, dan Lutim. Salah satu Caleg utusan PDI Perjuangan, yakni Paskaria Tombi, gencar melakukan blusukan ala Jokowi.
Caleg pendatang baru nomor urut tujuh (7) di dapil Sulsel 3 ini mulai mengancam caleg petahana dan politisi senior dengan gaya berkampanye yang masif dan terstruktur.
Jebolan dari Universitas Indonesia ini lebih banyak turun langsung ke lapangan untuk melihat kondisi riil masyarakat yang terpinggirkan.
Dari pagi, siang, sampai tengah malam ia menyusuri kampung-kampung tak kenal lelah. Dengan ketulusan hatinya, ia menyatu dan membaur dengan warga di daerah-daerah terisolir. Karena kepedulian dan komitmen yang ditunjukkan itu, sehingga warga pun menjulukinya sebagai wonder women.
Paskaria Tombi menyusuri kampung-kampung terisolir di malam hari.
Wanita muda ini mengaku banyak mendapat pengalaman selama terjun langsung bertatap muka dengan warga. Keluhan bahkan tangisan warga didengarkan dan ditampung untuk dipenuhi jika nantinya duduk di kursi parlemen.
“Banyak pengalaman yang saya dapatkan setelah menjadi caleg. Termasuk kondisi rakyat ternyata masih banyak yang tidak diperhatikan selama ini. Saya jadi terharu dan berapa kali menangis di lapangan melihat masyarakat yang serba kekurangan. Macam-macam saya dapatkan di lapangan, yang paling terharu itu di Toraja, ada warga yang hanya minta sarung ketika saya terpilih kelak,” cerita Paskaria Tombi sambil meneteskan air matanya.
Wanita yang berprofesi sebagai advokat dan kurator itu mengaku prihatin melihat kondisi rakyat yang banyak dijumpai langsung di beberapa daerah. Ia mengaku semakin bersemangat merebut satu kursi ke senayan demi memperjuangkan rakyat di daerah-daerah terisolir.
“Kalau saya tidak maju caleg, saya tidak akan pernah tahu kehidupan sesama kita seperti ini. Ini sungguh pengalaman yang tidak akan saya lupakan meski saya tidak terlipih nantinya. Tapi ini semua membulatkan tekad saya untuk kemajuan rakyat,” ujarnya kepada media ini, Kamis (11/04/2019).
“Jadi memang gaya kampanye yang saya lakukan lebih banyak bertatap muka dengan warga dan memanfaatkan medsos. Jadi kita tidak seperti yang lain mengandalkan finansial saja, kita mau memperlihatkan kepada masyarakat cara berpolitik yang benar, tidak boleh melakukan politik uang,” tegasnya.
Paskaria Tombi adalah wanita berdarah Toraja (Tikala-Bittuang) juga ada Menado nya yang telah lebih dari 10 tahun fokus bekerja dalam bidang hukum sebagai advokat dan kurator di Jakarta.
Sang kurator muda dan enerjik ini, berjanji apabila terpilih nanti maka visi dan misi adalah penguatan perempuan (women empowering), selain itu peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan, kemudian perbaikan dan pengawalan pemerataan pembangunan.
Ia menjelaskan, penguatan perempuan (women empowering) melalui pembuatan dan pengawalan regulasi, dengan keberpihakan kepada perempuan agar dapat berkiprah dimanapun berada.
Sementara peningkatan layanan pendidikan dan kesehatan melalui pembuatan dan pengawalan regulasi, dengan perbaikan basis data sehingga program Indonesia “Pintar & Sehat” dapat benar-benar dirasakan oleh masyarakat, terutama bagi mereka yang berada pada zona sangat membutuhkan.
Selanjutnya, perbaikan dan pengawalan pemerataan pembangunan “glokalitas” adalah globalitas dan potensi lokal yang harus berjalan secara sinergi melalui pembuatan regulasi dan penganggaran (budgeting) yang tepat sasaran agar tercapainya peningkatan produktivitas dan pemerataan pembangunan sesuai dengan Nawacita Presiden Joko Widodo.
Sekedar diketahui, beberapa caleg petahana di Dapil Sulsel 3 seperti Luthfi A Mutty (NasDem), Abu Bakar Wasahua (PPP), Amran (PAN) dan Bahrum Daido (Demokrat), Felicitas Tallulembang (Gerindra), Andi Fauziah Pujiwatie Hatta (Golkar). Sementara satu incumbent lainnya yang sudah tak maju adalah Markus Nari dari Partai Golkar.
Nama lain yang patut diperhitungkan adalah Agus Arifin Nu’mang (Gerindra/mantan Wakil Gubernur Sulsel), La Tinro La Tunrung (Gerindra/mantan Bupati Enrekang), Muhammad Fauzi (Golkar/suami Bupati Luwu Utara), Ani Nurbani (NasDem/istri wakil Bupati Luwu Timur), Eva Stevany Rataba (NasDem/istri wakil Bupati Toraja Utara), Hayarna Hakim (NasDem/istri Bupati Luwu terpilih).
Selain itu, ada juga Frederik Batti Sorring (Demokrat/mantan Bupati Toraja Utara), Muhammad Dhevy Bijak (Demokrat/anak Wakil Bupati Luwu terpilih), Rusdi Masse (NasDem), Darwis Ismail (PPP), Jalamuddin Jafar (PAN) dan APA Timo Pangerang. (yustus)