SOROTMAKASSAR -- Luwu Utara.
Kehadiran Pabrik Kelapa Sawit PT Jas Mulia telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama petani.
Pabrik yang secara resmi beroperasi pada Mei 2017 juga telah berkontribusi nyata terhadap Kabupaten Luwu Utara.
Humas PT Jas Mulia, Fuji kepada media ini, Selasa (26/03/2019) mengatakan, pajak selama setahun beroperasi mencapai Rp 30 miliar.
“Keberadaan PT Jas Mulia tak bisa dipungkiri telah memberikan kontribusi nyata terhadap daerah. Mulai dari penerimaan pajak yang dalam setahun operasi sudah mencapai Rp 30 miliar,” ujar Fuji.
Selain itu, lanjutnya, pabrik yang berlokasi di Desa Minanga Tallu, Kecamatan Sukamaju, ikut menyerap 332 tenaga kerja. “Terdiri dari 150 karyawan, 52 karyawan lepas, dan 130 buruh bongkar,” terangnya.
Padahal, di tahun 2018 lalu keuntungan PT Jas Mulia terbilang minim dan terkadang malah merugi. Namun itu tidak menghalangi mereka mengeluarkan CSR (corporate social responsibility).
“Disisi lain dengan keuntungan yang masih minim bahkan kadangkala rugi PT Jas Mulia terus berupaya memberikan kontribusi dalam hal pengeluaran CSR. Baik secara langsung terhadap masyarakat maupun melalui pola kerjasama dengan pemerintah,” tuturnya.
"Keberadaan PT Jas Mulia di Kecamatan Sukamaju juga telah mempengaruhi roda perputaran keuangan yang berimplikasi positif terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” Fuji menambahkan.
Kehadiran PT Jas Mulia turut membuat petani tersenyum. Lantaran harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kian membaik dan stabil.
“Dulu waktu belum ada pabrik, harga TBS di tingkat petani hanya Rp 500, kini sudah Rp 1.000 lebih,” terangnya.
Dampak positif kehadiran PT Jas Mulia diamini pula Sudirman Salomba. Seorang anggota DPRD sekaligus petani sawit.
Menurut Sudirman, TBS di Luwu Utara hanya dihargai Rp 400 per kilogram di tingkatan petani tahun 2014. Ketika itu belum ada pabrik kelapa sawit di kabupaten berjarak 450 kilometer dari Makassar.
“Waktu itu harga sangat rendah, bahkan ada petani yang tidak mau memanen kelapa sawitnya karena harga tidak bisa menutupi biaya panen,” tutur Sudirman, seraya menambahkan barulah ketika PT Jas Mulia hadir harga normal.
“Sejak Jas Mulia beroperasi dua tahun lalu, harga terendah di tingkatan petani masih Rp 800. Bandingkan sebelumnya yang pernah hanya Rp 400,” paparnya. (yustus)
Kehadiran Pabrik Kelapa Sawit PT Jas Mulia telah dirasakan manfaatnya oleh masyarakat terutama petani.
Pabrik yang secara resmi beroperasi pada Mei 2017 juga telah berkontribusi nyata terhadap Kabupaten Luwu Utara.
Humas PT Jas Mulia, Fuji kepada media ini, Selasa (26/03/2019) mengatakan, pajak selama setahun beroperasi mencapai Rp 30 miliar.
“Keberadaan PT Jas Mulia tak bisa dipungkiri telah memberikan kontribusi nyata terhadap daerah. Mulai dari penerimaan pajak yang dalam setahun operasi sudah mencapai Rp 30 miliar,” ujar Fuji.
Selain itu, lanjutnya, pabrik yang berlokasi di Desa Minanga Tallu, Kecamatan Sukamaju, ikut menyerap 332 tenaga kerja. “Terdiri dari 150 karyawan, 52 karyawan lepas, dan 130 buruh bongkar,” terangnya.
Padahal, di tahun 2018 lalu keuntungan PT Jas Mulia terbilang minim dan terkadang malah merugi. Namun itu tidak menghalangi mereka mengeluarkan CSR (corporate social responsibility).
“Disisi lain dengan keuntungan yang masih minim bahkan kadangkala rugi PT Jas Mulia terus berupaya memberikan kontribusi dalam hal pengeluaran CSR. Baik secara langsung terhadap masyarakat maupun melalui pola kerjasama dengan pemerintah,” tuturnya.
"Keberadaan PT Jas Mulia di Kecamatan Sukamaju juga telah mempengaruhi roda perputaran keuangan yang berimplikasi positif terhadap peningkatan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat,” Fuji menambahkan.
Kehadiran PT Jas Mulia turut membuat petani tersenyum. Lantaran harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit kian membaik dan stabil.
“Dulu waktu belum ada pabrik, harga TBS di tingkat petani hanya Rp 500, kini sudah Rp 1.000 lebih,” terangnya.
Dampak positif kehadiran PT Jas Mulia diamini pula Sudirman Salomba. Seorang anggota DPRD sekaligus petani sawit.
Menurut Sudirman, TBS di Luwu Utara hanya dihargai Rp 400 per kilogram di tingkatan petani tahun 2014. Ketika itu belum ada pabrik kelapa sawit di kabupaten berjarak 450 kilometer dari Makassar.
“Waktu itu harga sangat rendah, bahkan ada petani yang tidak mau memanen kelapa sawitnya karena harga tidak bisa menutupi biaya panen,” tutur Sudirman, seraya menambahkan barulah ketika PT Jas Mulia hadir harga normal.
“Sejak Jas Mulia beroperasi dua tahun lalu, harga terendah di tingkatan petani masih Rp 800. Bandingkan sebelumnya yang pernah hanya Rp 400,” paparnya. (yustus)