Oleh : M. Dahlan Abubakar
Berita duka kembali menyeruak dunia Pers Sulawesi Selatan hari ini, Jumat (10/04/2020). Seorang wartawan senior berpulang ke rakhmatullah. Putra Jaya, MS, yang dilahirkan di Soppeng 24 Desember 1948, menghembuskan nafasnya yang terakhir dalam usia menjelang 72 tahun, Jumat (10/04/2020) dinihari.
Informasi yang beredar di media sosial menyebutkan, almarhum tidak mengalami sakit, namun Pemimpin Redaksi Tabloid “Demo’s” ini dikenal sebagai salah seorang perokok berat. Jenazah almarhum disemayamkan di Jl. Ratulangi, tepatnya di Jl. Unta Barat, Makassar.
Pria dengan nomor keanggotaan PWI 23.00,4667.93 tersebut pernah menjabat Ketua Serikat Penerbit Suratkabar (SPS) Sulsel sebelum digantikan M. Dahlan Kadir (alm).
Di akhir-akhir hayatnya, almarhum sering terlihat kongkow-kongkow sembari minum kopi di Warung Kopi Sahabat, di perempatan Jl. La Galigo-Jl. Lasinrang. Di Warkop itulah dia bisa betah berjam-jam duduk sembari berbincang-bincang dengan teman-temannya tentang banyak hal. Jika di Jl. Lasinrang terparkir sebuah minibus Hiace putih yang telah kehilangan warna aslinya, tanggung almarhum ada di Warkop tersebut.
Kepada saya saat akan menulis buku “Menembus Blokade Kelelawar Hitam” (2010), almarhum berkisah, pertama kali mengenal dunia kewartawanan pada tahun 1967. Kala itu dia bekerja sebagai reporter Pers foto Pionir. Pers foto ini bernaung di surat kabar harian Tegas yang kemudian dipimpinnya pada tahun 2010-2014 dan Pendam XIV Hasanuddin di Ujungpandang. Di situlah, awal dia mengenal hingar-bingarnya dunia jurnalistik.
“Saya tertarik menjadi wartawan foto lantaran melihat penampilannya yang meyakinkan dan menarik hati. Berjalan dengan penuh gaya sembari menenteng kamera. Pada setiap ada kegiatan selalu berada di bagian depan. Setiap ada kegiatan pemerintah dan masyarakat yang memerlukan dokumentasi foto, selalu dipercayakan kepada wartawan foto. Siapa pun pasti dijepret tanpa batas stratifikasi. Hal inilah yang menyebabkan wartawan foto selalu banyak memperoleh fasilitas dalam kehidupan sehari-hari,” bebernya.
Semula, bidang jurnalistik tulis, secuil pun tak membuat dia tertarik. Dia malah cuek, tidak menggubrisnya sama sekali. Setelah melewati satu dasawarsa bergelut dengan urusan Mat Kodak, ternyata keinginannya mulai berubah. Dia mau memasuki dunia jurnalistik tulis. Keinginannya itu ternyata tak terlalu sulit dia tunaikan. Pada tahun 1977, Mingguan Gema merekrutnya sebagai wartawan. Saat itu, mingguan ini berkantor di Jl. Jenderal A.Yani, bersama beberapa suratkabar lainnya.
Membuat berita, memberikan pengalaman berharga bagi Putra Jaya MS. Karena dasarnya dari dunia foto, dia memasuki jurnalistik tulis justru tanpa modal keterampilan sama sekali. Bahkan, sekadar mengubah keinginan semata. Makanya, pada awalnya, membuat berita selalu penuh kesalahan. Namun dia tidak menyerah dan pasrah. Kemauan kerasnya dapat membuat berita yang layak muat tidak pernah pudar dan kendur. Di bawah bimbingan Muhammad Nur Syam (M. N. Syam), almarhum, mengantar dia akhirnya kian terampil menulis berita.
Pada tahun 1983, Juni tepatnya, Putra Jaya bersama belasan wartawan lainnya memperoleh kesempatan mengikuti Karya Latih Wartawan (KLW) PWI Pusat yang dilaksanakan di Benteng Ujungpandang. Pesertanya memang dari Ujungpandang (ketika itu), termasuk saya, Ajiep Padindang, Hasan Mintaraga, Andi Syahrir Makkuradde (alm), dan beberapa nama lainnya yang tak teringat lagi. Pendeknya, diikuti perwakilan dari berbagai media cetak dan elektronik di daerah ini. Ilmu yang diperoleh Putra Jaya pada KLW itu ikut semakin membentuk dirinya sebagai wartawan profesional.
Tidak lama kemudian, tepatnya pada tanggal 7 September 1983, Unhas dengan Departemen Penerangan (Deppen) menyelenggarakan Peningkatan Pengetahuan dan Keterampilan Jurnalistik (PPKJ) bagi para wartawan di Sulawesi Selatan. Putra Jaya pun memperoleh kesempatan emas bersama 26 orang wartawan lainnya.
Para peserta yang ikut Pelatihan Peningkatan Keterampilan Jurnalistik (PPKJ) adalah Aidir Amin Daud, Ismantoro, Abun Sanda RVG, Rudy Harahap (Harian Fajar), Yasmin Tendan, Leonard W. Leleng, Ardhy M. Basir (Pedoman Rakyat), Sri Rastiti, Sukrin Suweleh (TVRI UP), Ajeip Padinding (Mingguan Posma), M. Ridwan Syam, Zeith Refwutu, M. Hasbi Kawu (Mingguan Mimbar Karya), Abubakar Hanafi, M. Zain Syam (Mingguan Bina Baru), Putra Jaya MS, Johannis P. Jonas, A. Mansyur (Harian Gema), Burhanuddin Mampo, Biru Kamisang (RRI Nusantara IV), Burhan Muhiddin (Deppen RI), Firdaus Nurhid (Pendam XIV/Hasanuddin), Hengky Sinanu (Harian Tegas), Eddy Sarumpaet (Majalah Karya), A. M. Asfah Hasib (Humas Pemda Provinsi Sulsel), A.Yusuf Bachtiar (Mingguan Makassar Press), dan Lucky Alyus (Mingguan Bawakaraeng).
Pendidikan dengan sistem teori : praktik 40% : 60% itu menghabiskan waktu dua bulan dikomandani S. Sinansari Ecip. Kegiatan PPKJ ini dilaksanakan menyambut Tahun Komunikasi se-Dunia dan Dies Natalis Universitas Hasanuddin ke-27.
Boleh dikata, para peserta PPKJ ini bagaikan mengikuti kuliah khusus mata kuliah yang berkaitan dengan jurnalistik. Soalnya, PPKJ menawarkan kurikulum yang dibagi ke dalam empat kelompok. Kelompok I berupa Etika yang dibagi ke dalam lima mata kuliah. Kelompok II meliputi Teori Jurnalistik/Komunikasi yang mencakup 10 mata kuliah. Kelompok III khusus Keterampilan Jurnalistik dengan 10 mata kuliah. Kelompok IV berupa Penunjang yang mencakup ilmu yang diperoleh peserta selama PPKJ berlangsung.
Kegiatan yang menghabiskan dana Rp 14.720.000,- ini (waktu itu), dikemas oleh sebuah panitia kecil terdiri atas Ketua Umum : Drs. A. S. Achmad, Ketua Pelaksana : Drs. Sutiono S. Ecip, Sekretaris I dan II : Drs. A. R. Bulaeng dan Drs. Anwar Arifin, Bendahara : A. Muis Hamid dengan para anggota : Drs. Zainal Abidin (Kanwil Deppen Sulsel), Nurdin Mangkana, SH (PWI Sulsel), Drs. Hafid Cangara (Unhas), Benny Sarumpaet (SPS Sulsel), dan Drs. T. Amrullah (Unhas). Pelaksanaannya bertepatan dengan Unhas baru setahun dipimpin oleh Prof. Dr. Hasan Walinono.
Sebagai eks wartawan foto, Putra Jaya memang mampu memperlihatkan jati diri dan kompetensinya. Salah satu dari tiga foto yang menghiasi halaman buku PPKJ 1983 Unhas-Deppen adalah karyanya. Foto human interest yang dijepretnya nyata benar memperlihatkan Putra Jaya sebagai seorang fotografer berkelas. Foto itu memperlihatkan seorang pria bertopi mengenakan sarung dan – tampaknya – seorang peminta-minta, duduk termenung. Putra Jaya memberi judul foto tersebut ‘’Meratapi Nasib’’.
Beberapa tahun kemudian, lelaki yang termasuk Dewan Penasihat Yayasan Lembaga Pers Sulawesi Selatan (YLPSS) tersebut pernah menerbitkan Mingguan Semangat Baru bersama beberapa temannya, di antaranya Johannis P. Jonas, yang sama-sama alumni PPKJ Unhas-Deppen. Seiring dengan perkembangan kondisi tanah air, dia tinggalkan mingguan tersebut. Kemudian bersama Fahmy Myala, alm (pensiunan wartawan Kompas) menerbitkan Tabloid DemoS. Tabloid yang pernah terbit saban minggu dan dipelihara Putra Jaya MS dan kawan-kawan tersebut kini tiada, disusul sang pemimpin redaksinya. (*)