Sinergi di Jantung Kunjung Mae: Kala Rajawali Bersolek dalam Harmoni

SOROTMAKASSAR – MAKASSAR.
Mentari baru saja menggeliat dari ufuk timur, membiaskan semburat jingga yang membasuh sisa-sisa embun di pucuk daun. Meski langit Makassar pagi itu nampak sedikit muram dengan cuaca yang kurang bersahabat, hal tersebut tak menyiutkan nyala api semangat di Kelurahan Kunjung Mae. Deru sapu lidi yang bergesekan dengan aspal mulai memecah kesenyapan pagi, menjadi genderang perang melawan kekumuhan di Minggu Pagi (04/01/2026)


Hari ini bukan sekadar hari biasa; ini adalah sebuah ritual kolektif yang telah mendarah daging dalam denyut nadi masyarakat setempat. Sebuah manifestasi nyata dari program Pemerintah Kota Makassar yang menekankan pada kebersihan lingkungan sebagai fondasi ketahanan kota. Kerja bakti ini menjadi panggung kolaborasi yang apik antara otoritas kelurahan dan garda terdepan masyarakat.
Lokasi yang menjadi sasaran jemari-jemari tangkas warga kali ini adalah sepanjang koridor Jalan Rajawali. Wilayah yang menjadi salah satu urat nadi aktivitas di Kelurahan Kunjung Mae ini nampak sibuk dengan aktivitas manusia yang tak lagi berkutat dengan gawai, melainkan dengan cangkul, sekop, dan kantong sampah berukuran jumbo.
Lurah Kunjung Mae, Syafruddin, S.E., M.M., berdiri di tengah barisan warga, bukan sekadar memberi instruksi, melainkan menjadi dirigen dalam simfoni kebersihan ini. Dengan langkah tegap dan tatapan penuh komitmen, ia menegaskan bahwa kebersihan bukanlah sebuah opsi, melainkan sebuah nafas kehidupan yang harus dihirup setiap hari oleh seluruh warga.


"Tiada hari tanpa kebersihan," ujar Syafruddin dengan nada bicara yang mantap namun tetap merangkul. Baginya, konsistensi adalah kunci utama dalam merawat wajah kota. Pernyataan ini bukan sekadar retorika belaka, melainkan sebuah janji kerja yang terus diestafetkan dari satu titik koordinat ke titik lainnya di wilayah kepemimpinannya.
Beliau memaparkan bahwa aksi hari ini merupakan kelanjutan dari rangkaian maraton kebaikan yang telah dilakukan sebelumnya. "Setelah kita mencurahkan energi dalam kerja bakti di Jalan Cenderawasih Lorong 31 beberapa waktu lalu, hari ini kita melanjutkan ikhtiar tersebut di sepanjang Jalan Rajawali," imbuhnya sembari memantau aliran air di drainase yang mulai lancar dari sumbatan sedimen
Di sudut lain, para Ketua RT dan RW menunjukkan taring kepemimpinannya. Mereka bergerak lincah, memobilisasi warga dengan cara-cara persuasif yang penuh kehangatan. Kolaborasi ini nampak begitu organik; tidak ada sekat antara pejabat dan rakyat. Semuanya melebur dalam satu visi: menjadikan Kunjung Mae sebagai wilayah yang higienis, estetis, dan nyaman untuk dihuni.


Aroma tanah basah dan tumpukan sampah organik yang berhasil dievakuasi menjadi saksi bisu betapa seriusnya warga dalam merawat lingkungan mereka. Sampah-sampah plastik yang tadinya berserakan kini telah terisolasi secara rapi, menunggu untuk diangkut menuju tempat pembuangan akhir, meninggalkan kesan jalanan yang lebih lapang dan bersih dipandang mata.
Program pemerintah kota Makassar yang berfokus pada "Makassar Tidak Rantasa" (Makassar Tidak Kotor) seolah menemukan ruhnya di sini. Sinergi antara lurah, perangkat RT/RW, dan masyarakat bukan sekadar kerja fisik, melainkan bentuk investasi sosial untuk meminimalisir risiko banjir dan penyebaran penyakit yang kerap mengintai saat musim penghujan tiba.
Peluh yang bercucuran di kening para partisipan menjadi permata pagi yang berkilau di bawah mendung yang kian menipis. Ada rasa bangga yang terpancar dari wajah-wajah mereka saat melihat selokan yang tadinya mampet kini mulai bernapas lega, mengalirkan air menuju muara tanpa hambatan berarti.
Interaksi sosial pun terjalin lebih erat di sela-sela aktivitas berat tersebut. Candaan ringan dan tawa yang pecah di antara tumpukan dedaunan kering menjadi katalisator bagi persatuan warga. Kerja bakti ini telah bertransformasi menjadi ruang silaturahmi yang efektif, memperkuat kohesi sosial yang mungkin sempat merenggang karena kesibukan masing-masing.


Seiring matahari yang merayap menuju zenit, tugas fisik pun mulai mendekati garis akhir. Jalan Rajawali kini nampak bersolek, tampil lebih bugar dan rapi dibandingkan jam-jam sebelumnya. Keberhasilan ini adalah buah manis dari kerelaan hati untuk meluangkan waktu demi kepentingan khalayak banyak.
Sebagai penutup dari rangkaian bakti nyata tersebut, seluruh partisipan berkumpul di satu titik yang ikonik. Lelah yang hinggap di raga seolah sirna berganti dengan raut kepuasan kolektif. Sesi foto bersama menjadi agenda pamungkas, mengabadikan momen kemanunggalan antara pemimpin dan warga dalam satu bingkai digital yang penuh makna.
Foto tersebut bukan sekadar dokumentasi formalitas, melainkan sebuah prasasti visual bahwa di Kelurahan Kunjung Mae, gotong royong bukan hanya sekadar slogan di papan bicara, melainkan detak jantung yang terus berdenyut demi masa depan Makassar yang lebih baik, lebih bersih, dan lebih bermartabat.