Ermaula : Pengangguran Sulsel Masih 4,45 Persen, Investasi Terarah Jadi Kunci

SOROTMAKASSAR –- MAKASSAR, Ketua Badan Pengurus Daerah Kerukunan Keluarga Sulawesi Selatan (BPD-KKSS) Kota Bandung, Ir. H. F. Ermaula Aseseang, MT, IAP, mengungkapkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Sulawesi Selatan per November 2025 masih berada di angka 4,45 persen.

Hal tersebut disampaikannya usai mengikuti Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) XXVI yang berlangsung pada 25–27 Maret 2026 di Hotel Claro Makassar.

Menurutnya, persoalan pengangguran tidak cukup diatasi hanya dengan mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Pembukaan lapangan kerja, kata dia, harus diperluas terutama di tingkat kabupaten dan kota dengan melibatkan investasi dan dunia usaha.

“Kalau hanya mengandalkan APBD, maka penciptaan lapangan kerja akan berjalan di tempat. Karena itu perlu peran investasi, dunia usaha, dan inisiatif masyarakat,” ujarnya, Senin (30/3/2026) di Virendy Cafe, Jalan Lanto Dg Pasewang, Makassar.

Ia menegaskan, pemerintah daerah memegang peran strategis dalam mendorong masuknya investasi. Namun investasi tersebut harus dirancang secara terarah, tidak sporadis, serta mampu memberikan efek berganda terhadap pertumbuhan ekonomi dan penyerapan tenaga kerja.

Lebih lanjut diungkapkan, potensi sumber daya yang dimiliki daerah hingga kini belum dimanfaatkan secara optimal. Hal itu terlihat dari ketimpangan antara potensi yang ada dengan tingkat pendapatan per kapita masyarakat.

“Potensi kita besar, tapi belum dimanfaatkan maksimal. Di sinilah peran ahli, investor, dan saudagar untuk ambil bagian,” katanya.

Pria yang akrab disapa Levi ini juga menekankan pentingnya pengembangan wilayah berbasis hilirisasi. Ia menjelaskan, daerah hinterland perlu diintegrasikan dengan kota besar dan kota menengah dalam satu sistem produksi yang saling terhubung.

“Jadi kota besar, kota menengah, dan daerah belakang harus menjadi satu kesatuan. Di situlah konsep hilirisasi yang ideal,” jelasnya.

Ia mencontohkan Kota Bandung sebagai pusat keahlian dan teknologi yang didukung sejumlah perguruan tinggi seperti Institut Teknologi Bandung (ITB) dan Universitas Padjadjaran (Unpad), sehingga memungkinkan terbangunnya konektivitas antara teknologi dan potensi daerah.

Ermaula menambahkan, langkah yang perlu dilakukan adalah mengkaji potensi daerah secara menyeluruh, kemudian mentransformasikannya menjadi kegiatan produksi yang terintegrasi.

“Kalau ini berjalan, otomatis akan membuka lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia juga menyoroti sektor perkebunan kelapa yang selama ini masih didominasi ekspor bahan mentah. Menurutnya, rantai produksi perlu diperpanjang hingga menghasilkan produk turunan bernilai tambah.

“Kalau hanya kelapa mentah, nilainya rendah. Tapi kalau diolah jadi produk turunan seperti bubuk kelapa, nilainya bisa berlipat,” jelasnya.

Karena itu, ia mendorong saudagar KKSS di seluruh Indonesia untuk mengintegrasikan teknologi, investasi, dan sektor pertanian dalam satu ekosistem ekonomi.

Ia menambahkan, KKSS Bandung memiliki pendekatan berbeda dibanding daerah lain yang lebih bertumpu pada sumber daya alam. KKSS Bandung lebih menitikberatkan pada penguatan teknologi dan jejaring dengan kementerian.

“Program kami mengawinkan teknologi dan jaringan dengan potensi daerah,” ujarnya.

Ia juga mencontohkan potensi Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep) yang dinilai sangat besar, namun belum dikelola secara sistematis.

“Kalau potensi daerah, teknologi, dan dukungan pemerintah disinergikan, Pangkep bisa berkembang pesat,” katanya.

Di akhir pernyataannya, ia menekankan pentingnya pemerintah daerah memetakan peluang investasi secara jelas dan terintegrasi sebagai bagian dari strategi pengembangan wilayah.

“Pemerintah daerah harus punya peta investasi yang jelas dan terarah. Itulah yang menjadi daya tarik saat menawarkan potensi daerah ke pusat,” tandasnya. (Hdr)

BIODATA SINGKAT
Nama: Ir. H. F. Ermaula Aseseang, MT, IAP
Profesi : Ahli Perencanaan Kota dan Pengembangan Daerah
TTL : Makassar, 10 Desember 1962
Agama : Islam
Hobi : Running, Geotrekking, Badminton, Sketching, Fotografi
Pendidikan : TK Bhayangkari Makassar (1968)
SD Cilandak III Pagi Jakarta (1974)
SMPK Frater Ujung Pandang (1977)
SMAK St. Aloysius Bandung (1981)
Teknik Planologi ITB – Sarjana Muda (1984), Sarjana (1993) Magister Perencanaan Wilayah dan Kota ITB (2000)
Organisasi & Profesi : Anggota IAP (sejak 1992), APUD (sejak 2020)Pernah menjabat Ketua Umum IAP Jabar, Wakil Ketua INKINDO Jabar, hingga kini Ketua BPD KKSS Kota Bandung (2025–sekarang).
Karier : Direktur Utama PT Teknoplan Nusantara (2007–2012)
Founder URDev Networking+ Advisory Consulting (2012–2022)
Founder & COO PT Ripta Jagabhumi Nusantara (2022–sekarang)
Pengalaman : Sejak 1985 aktif sebagai konsultan perencanaan wilayah dan kota, terlibat sekitar 160 proyek di berbagai daerah di Indonesia, serta menjadi narasumber di sejumlah kementerian dan lembaga nasional.
Penghargaan : Di antaranya Lulusan Terbaik Planologi ITB (1984), Pembina Terbaik Satria Nusantara (2000), hingga Juara II Kompetisi Kawasan Pesisir Sayung Jawa Tengah (2022).